Pandemi Corona yang hingga akhir tahun 2020 belum jelas kapan akan berakhir menjadi pengalaman tersendiri bagi pelajar dan mahasiswa yang terpaksa harus mengikuti perkuliahan secara online atau daring.

Sri Bulan Riski adalah mahasiswi jurusan pendidikan fisika di Universitas Jambi. Memulai kuliah di masa pandemi COVID-19, ia belum pernah tatap muka langsung layaknya dunia kampus dalam kondisi normal.

Tahun 2020 ini dirinya mengambil program Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara-Sistem Alih Kredit dengan Teknologi Informasi (PERMATA-SAKTI) Tahun 2020, program Kampus Merdeka yang jadi program Menteri Nadiem Makarim.



Sri Bulan Riski memilih kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sebagai kampus untuk program Permata Sakti 2020. Meski ternyata hanya melalui kuliah dalam jaringan.

Tak jarang bila ia menyatakan cukup mengalami kesulitan dalam memahami materi. Apalagi bila penyampaian dosen kurang bisa dimengerti.
Baca : Sekda Tak Hadir, DPRD Trenggalek Tunda Hearing Dana PEN

?autoplay=1&mute=1

“Pembelajaran daring seperti ini menguras paket internet saja, mungkin jika kuliah dilakukan tatap muka lebih efektif dan lancar tanpa ada keluhan sama sekali,” ucap mahasiswi semester lima itu, Kamis (3/12/2020).

Mahasiswi yang akrab disapa Bulan itu menyatakan bahwa kuliah tatap muka lebih baik, apalagi sejak sejak perkuliahan mulai aktif dirinya sama sekali belum pernah merasakan perkuliahan secara normal seperti sebelum ada pandemi COVID-19.

“Saya sebagai mahasiswi belum pernah merasakan kuliah tatap muka, selama tiga bulan kuliah daring. Rasanya kurang menyenangkan,” lanjutnya.

Dari kondisi kuliah daring, gadis 20 tahun ini juga menyebutkan bahwa fasilitas pembelajaran dirasa kurang maksimal digunakan. Antara lain untuk pelaksanaan praktikum yang mestinya dipraktekkan langsung bersama rekan-rekannya diganti dengan menyimak video dari asisten praktikum.
Baca : Jurnalis di Gorontalo Dibacok OTK, Kapolda Perintahkan Kasusnya Diusut Tuntas

“Kami tidak turun langsung buat praktik, jadi saat disuruh melakukan praktikum sendiri di rumah belum benar-benar paham. Apalagi dosen juga kurang memperhatikan kami sebagai mahasiswa yang tidak melihat secara langsung,” kata Sri Bulan Riski.



Toh ia paham kondisi terjadi akibat situasi pandemi. Ia pun tidak menyalahkan pihak manapun.

Termasuk penerapan 3M di lingkungan rumahnya pun belum semua sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dengan cara mengenakan masker, mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir, serta menjaga jarak.



“Saya sendiri mencoba menerapkan 3M, sesekali saya ajak juga orang rumah dan teman-teman agar lebih aware dalam menjaga kesehatan,” jelasnya.

Harapan mahasiswi dari Jambi ini, semoga wabah Corona jenis baru segera sirna sehingga ia bisa belajar bersama teman-teman kuliahnya di kampus. (#c)

 

“Saya sendiri mencoba menerapkan 3M, sesekali saya ajak juga orang rumah dan teman-teman agar lebih aware dalam menjaga kesehatan,” jelasnya.

Harapan mahasiswi dari Jambi ini, semoga wabah Corona jenis baru segera sirna sehingga ia bisa belajar bersama teman-teman kuliahnya di kampus. (#c)



Sumber : https://ligo.id/begini-kesan-seorang-mahasiswa-yang-jalani-kuliah-daring/